Jangan habiskan waktumu, keluhkan kerikil hingga terlalu. Sebab mereka, adanya kadang memang niscaya. Maka hadapi saja, selimuti langkahmu dari luka, yang dapat mengganggu, dalam menapaki jalan cita-citamu.

Achmad Lutfi - Wolfsburg, 23.05.2013

Jangan habiskan waktumu, keluhkan kerikil hingga terlalu. Sebab mereka, adanya kadang memang niscaya. Maka hadapi saja, selimuti langkahmu dari luka, yang dapat mengganggu, dalam menapaki jalan cita-citamu.

Achmad Lutfi - Wolfsburg, 23.05.2013

adik-kecil:

Call For Paper!

Indonesian Scholars International Convention (ISIC) is an annual conference by the Indonesian Students Association in the UK (Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom - PPI UK). 

The event will consist of an academic conference as the main event and accompanied by supporting events, Debating Competition and Gala Cultural Night: Symphony in Diversity.

Main theme of the 13th Indonesian Scholars International Convention (ISIC):
“EMERGING INDONESIA: UNRAVELLING THE NATION’S POTENTIAL TO PURSUE A DYNAMIC AND INNOVATIVE DEVELOPMENT REGIONALLY AND GLOBALLY” 

With sub-themes:
1. Politics & Economics
2. Business, Industry & Commerce
3. Education, Culture & Sociology
4. Science & Technology

Indonesian Scholars International Convention (ISIC) will be held in :
London, 9th-10th November 2013 

Send your critical ideas and evaluation through ABSTRACT SUBMISSION which will further be selected for the next step in the 13th Indonesian Scholars International Convention as soon as possible before the deadline.

Abstract Submission Deadline:
2 June 2013

For More information, More Important dates and Submission Guide, please visit our website http://www.isic-tiimi.co.uk/
for enquiries: enquiries@isic-tiimi.co.uk

beningtirta:

Visi ASA Indonesia:

Terwujudnya lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak secara fisik, jiwa, spiritual, dan intelektual.

Follow juga @ASAIndonesia dan ayo mendaftar jadi relawan! :)

Mau Nulis Apa?

Kamu tentu tahu siapa itu Raditya Dika. Bukan, saya bukan sedang ingin berbincang tentang penulis yang satu itu, tetapi saya hanya teringat dengan salah satu kalimat yang ia sampaikan dalam sebuah Talkshow.

Waktu itu, dalam tayangan yang saya saksikan melalui youtube, Radit berkata, bahwa kalau pun suatu saat kita sedang tidak tahu hendak menulis apa, maka tulis saja, bahwa kita sedang tidak tahu mau menulis apa. Persis seperti saya sekarang ini.

Terkait dengan masukan yang dikatakan Radit, saya sendiri suka mencoba dan menerapkan saran nyeleneh tersebut, dan nggak jarang, disaat sedang menulis tanpa tahu apa yang ingin dibahas, justru disaat itu lah sebuah ide terlahir.

Lalu, gimana kalau ide itu tetap nggak muncul juga, meskipun kita sudah mulai menulis, dan menghasilkan beberapa kalimat?

Jawabannya, ya terus aja menulis.

Sebetulnya bukan hanya ketika kita lagi nggak ada inspirasi, tapi ketika banyak inspirasi pun, kita juga suka bingung memilih tema mana yang menarik yang akan dipaparkan dalam rangkaian kata-kata.

Kejadiannya sama kayak orang yang harus memutuskan sesuatu. Ketika nggak ada pilihan, lama berpikir untuk memutuskan, tapi begitu disediakan pilihan yang bermacam-macam, ternyata tetap saja dia habiskan puluhan menit untuk menentukan satu pilihan.

Tuh kan, bahkan sampai beberapa paragraf pun saya juga masih nggak tahu mau nulis apa.

Tapi tak apa, biarkan saja jari-jemari ini bebas menari, memainkan pentasnya diatas panggung yang tersusun atas huruf-huruf. Pikiran yang kita biarkan terbang dengan sayap-sayapnya, seringkali menghasilkan imajinasi yang menarik dan menghibur. Bukankah berfantasi itu lebih seru ketika kita tak memaksa kepala kita untuk berfantasi?

Banyak orang yang ketika punya gagasan untuk dituliskan, mereka justru nggak tahu harus mengawali cerita itu dari mana. Ujung-ujungnya, hampir satu jam didepan laptop, hanya menghasilkan kening yang berkerut-kerut memikiran paragraf pertama, lalu bergumam, “Depannya gimana ya?”

Padahal, sangat nggak salah, sewaktu kita berhasil merampungkan satu tulisan dan sampai pada akhir kalimat, kemudian kita perbaiki lagi kata pertama atau bahkan paragraf pembukanya. Tak ada yang melarang.

Sederhananya, dibawa asik aja. Berpikir untuk menentukan awal kalimat itu boleh, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menghabiskan waktu tanpa satu kata pun, itu juga kurang tepat.

Jadi, betul kata Raditya Dika, kalaupun kita lagi nggak tahu mau nulis apa, tapi kita sedang merasa ingin sekali untuk menulis, ya tulis aja. Tuliskan kalau kita lagi nggak tahu mau nulis apa. Hingga tiba-tiba kita tak sadar, bahwa sekumpulan paragraf telah berhasil kita susun dan kita telah tiba pada kalimat penutup.

Achmad Lutfi
17.05.2013

tumbr1:

Tamiya becomes real :D

Lamborghini Egoista Concept

To commemorate its 50th anniversary, Lamborghini teased the supercar, something it says “is designed purely for hyper-sophisticated people who want only the most extreme and special things in the world.”

My God, it seems like designed for Mars’s market, haha.. too weird for now, but awesome for some people. Do you want it? :D

Das Kampfflugzeug ohne Flügel!

"Kita nggak mungkin bisa hidup bebas begini kalau bukan karena melawan. Soekarno, Hatta, Syahrir, mereka semua berani memberontak dan melawan. Mereka berani melawan semua kesewenang-wenangan."

— Soe Hok Gie

(via lynfinity)

Kejutan untuk Reka

blog-tumbled:

Episode sebelumnya: Retrouvailles

Selalu begini. Waktu selalu senang menggoda manusia. Setidaknya begitulah yang aku rasa. Disaat kita sedang melakukan apa yang teramat kita suka, sang waktu seolah terburu-buru, bergerak cepat sekali. Sementara, ketika kita tengah berada dalam situasi yang menjemukan, geraknya seperti merangkak, lambat bukan main.

Tetapi aku berharap, malam ini waktu berpihak kepadaku, agar segera membawa pekat untuk pergi. Pergi. Sebab aku ingin segera pagi.

Kling…

Telepon genggamku memanggil. Sebuah pesan singkat.

Tante Indy:

Jadi apa yang menyebabkan seorang gadis manis bernama Reka begitu bahagia malam ini? Ku dengar karena siang tadi ia berjumpa dengan seorang teman lama. Hmm..

Aku tertawa.

Lekas-lekas memoriku berlarian menuju pertemuan siang tadi. Pertemuan sesaat di taman kota yang sama sekali tak aku sengaja. Reka, sosok yang menyebabkanku begitu ingin menjumpai hari esok.

Entah apa sesungguhnya reaksi Reka, bila seandainya ia tahu segalanya. Terlebih untuk kejutan esok malam, tepat di hari kelahirannya. Akankah ia marah padaku? Lalu benci kepadaku setelah itu?

Ah, aku tak tahu. Aku tak mengerti banyak tentang wanita. Yang aku tahu, bahwa hidup adalah ragam pilihan yang seringkali tak menyediakan banyak waktu untuk kita habiskan dengan hanya berpikir dan menimbang-nimbang. Sebab kesempatan, perginya, tak menunggu keputusan kita.

Menemukan Reka kembali dalam potongan episode hidup yang tengah aku jalani, bagiku adalah kesempatan yang kehadirannya belum tentu akan terulang.

“Hei, Tante udah cari tahu banyak tentang Reka. Dia anak yang baik, cerdas, istimewa, sepertinya memang perempuan yang tepat untuk menjadi teman hidupmu.” jelas Tante Indy, persis beberapa hari setelah suaminya, Om Derry, bercerita kepadaku tentang rekan kerja dikantornya. Hingga tersebutlah nama Reka.

“Mama gimana, Tan?”

Kein Problem, sie ist dafür.” (Nggak masalah, ia setuju.)

Mama hat ja gesagt? (Mama bilang iya?)

“Nein.(Bukan)

“Na und?” (Lantas?)

“Deine Mutter sagte, Reka ist genauso wie sie, wunderschön!” (Mamamu bilang, Reka sama banget kayak dia, cantik!)

Aku selalu tergelak tiap kali teringat akan obrolan itu. Obrolan melalui skype antara aku dengan Adik Ibuku sebulan yang lalu.

Maka Reka, saat itu menjadi satu nama yang ingin segera aku temui. Walaupun sayangnya terkendala oleh waktu yang belum aku punya untuk dapat terbang ke Indonesia.

Tetapi lagi-lagi, kesempatan datang dengan caranya sendiri. Ketika beberapa hari kemudian,

“Raffi,” whatsapp-ku menyampaikan pesan dari Om Derry, “Pekan depan Om dan Tante harus pergi ke München, ada urusan bisnis.”

Aku tertegun saat membaca kalimat itu. Serta merta pikiranku langsung tertuju kepada Reka. Setelah menarik nafas dalam-dalam, dengan keyakinan yang terkumpul, jemariku membalas pesan tersebut. Balasan yang membuat Om Derry kaget tak percaya,

“Kamu serius? Kamu rela mengorbankan sebagian uangmu, demi dapat menghadirkan Reka dan Orang tuanya ke Eropa?”

Aku tersenyum, “Apalah arti pengorbanan itu, jika dibandingkan dengan permintaanku agar diizinkan untuk mengenal Reka lebih jauh, dan meminang putri tercinta dari seorang Ibu dan Ayah.”

Demikianlah kataku. Pernyataan yang ternyata cukup membuat Om Derry yakin dan bersedia membantu.

Aku bisa memahami, bila orang lain menilai aneh atas apa yang aku lakukan. Barangkali aku terkesan terburu-buru, ingin menyampaikan semua ini pada Reka dan Orang tuanya sesegera mungkin. Apa salahnya bersabar sedikit, menunggu hingga aku memiliki waktu untuk pulang ke tanah air?

Namun inilah peluang. Kesempatan untuk mengutarakan maksudku kepada Reka hadir saat ini. Disaat aku mampu mengundang Reka diam-diam ke Eropa. Dan disaat aku tengah mencari sosok yang tepat, teman hidup dalam mengarungi samudera kehidupan yang tak mudah.

Reka tak pernah tahu kejutan ini. Ia tak pernah tahu bahwa atasannya adalah Pamanku, dan tak tahu pula bahwa aku berada dibalik kunjungannya ke Eropa. Bahkan tentang Orang tuanya, kejutan lain yang aku titipkan pada Om Derry agar mereka dapat berkunjung ke Jerman.

Maka disinilah aku malam ini. Terduduk di balkon kamarku lantaran tak dapat terlelap. Menanti pagi segera hadir bersama mentari. Lantas bergegas menuju bandara, menjemput Ayah dan Ibu Reka yang akan tiba.

Cemas dan bahagia berkumpul menjadi satu. Sama-sama ingin menguasai hati dalam malam yang membuatkau tak dapat terpejam.

Akan tetapi aku tak menduga, bahwa pertarungan dua rasa itu ditentukan oleh telepon yang berdering, yang aku angkat kemudian,

“Raffi ini Tante, barusan Reka dapat berita dari Indonesia, bahwa Ayah dan Ibunya Reka kecelakaan saat menuju bandara, sekarang kondisi mereka kritis.”

Aku terlonjak. Membisu.

Rupanya rasa cemas yang akhirnya sempurna berkuasa.

Achmad Lutfi
Hannover, 12 Mei 2013

"Berbahagialah. Hati yang lapang akan menuntunmu menaklukan hal-hal besar."

— Achmad Lutfi

"3 orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya"

— H.R. Thabrani

(Source: tumbr1)

Kabut
Sengajakah Engkau
Mewakili Pikiranku

Pekat
Hitam Berarak
Menyelimuti Matahari
Aku Dan semua yang ada di seklilingku
Merangkak menggapai dalam kelam

Mendung
Benarkah Pertanda Akan segera turun hujan
Deras
Agar Semua Basah Yang ada di muka bumi
Siramilah juga jiwa kami semua
Yang tengah dirundung kegalauan

Roda zaman Menggilas Kita
Terseret Tertatih-tatih
Sungguh Hidup terus diburu berpacu dengan waktu

Tak ada yang dapat menolong selain yang di sana
Tak ada tempat yang membantu selain yang di sana
Dialah Tuhan
Dialah Tuhan