Reblogged from ainirifana
herricahyadi:

Erdogan selalu membuat kejutan. Ia tak terdengar blusukan, tapi rakyatnya semua sejahtera. Ia tidak suka pencitraan, tapi hasil kerja kerasnya sangat nampak di permukaan. Ia tak (suka) diliput media, tapi justru membiarkan rakyat yang bercerita.
Bangganya rakyat Turki punya pemimpin negeri seperti ini.

herricahyadi:

Erdogan selalu membuat kejutan. Ia tak terdengar blusukan, tapi rakyatnya semua sejahtera. Ia tidak suka pencitraan, tapi hasil kerja kerasnya sangat nampak di permukaan. Ia tak (suka) diliput media, tapi justru membiarkan rakyat yang bercerita.

Bangganya rakyat Turki punya pemimpin negeri seperti ini.

Belum banyak cerita pendek yang pernah saya buat. Baru hanyalah beberapa saja. Tapi kepada beberapa cerita pendek itu, terkadang saya merasakan rindu dengan sosok-sosok yang saya reka sendiri.

Kerinduan itu membuat saya ingin menyapa mereka kembali, membuat saya ingin membersamai mereka dalam imajinasi yang saya bangun. Mungkin tidak untuk membuat tulisan atau cerita berikutnya. Setidaknya tidak untuk saat ini, sebab saya butuh waktu untuk menghasilkan rangkaian kalimat tersebut.

Maka, biarlah saya ‘bertatap’ kembali dengan mereka melalui tulisan ini. Saya ingin menyapa mereka satu-satu.

Teruntuk Rere,

Hai, Re. Terakhir kali kudengar kamu bertemu dengan seorang Ibu yang anaknya kemudian berjilbab setelah terinspirasi dengan tulisan kamu.

Bagaimana keadaan kamu sekarang? Masih sering bertukar cerita dengan Bulan kah? Atau malah semakin banyak inspirasi yang kamu dapatkan melalui sahabatmu yang satu itu?

Dengan hari-harimu yang kini, adakah kisah-kisah seru lagi? Kuharap kamu masih sering menuangkan rasa dan pikirmu melalui tulisan. Meski kamu pernah bilang, bahwa kamu tak bakat menulis.

Re, kapan kita ‘berjumpa’ lagi melalui karya-karya yang baru? Aku tengah sedikit jenuh dengan kegiatanku belakangan ini. Tenang, hanya sebuah kejenuhan yang wajar dan biasa. Aku hanya ingin saja menikmati masa-masa duniamu. Masa-masa SMA dengan segala keseruannya.

Temui aku kapan-kapan, Re!

Dan kepada tokoh rekaanku yang lain, yang aku tuliskan pada suatu hari disebuah perjalanan ke luar kota, ingin pula aku menyapanya. Selma.

Dear Selma,

masihkah matahari yang kamu syukuri keberadaanya senantiasa menggoda hingga membuatmu tersipu? Haha

Aku yakin, pasti ia malah semakin sayang dan mencintaimu dengan kesungguhan hati yang teramat. Aku tahu itu. Suamimu pernah bercerita, bahwa ia sangat amat beruntung memiliki istri sepertimu.

Aku harap, kamu sudah tak lagi mempertanyakan cintanya ya. Meski ia seorang Ustadz yang banyak ilmunya, dan kamu selalu merasa hanya butiran debu dengan keimanan yang masih jauh dari sempurna. Jangan, janganlah merasa seperti itu lagi.

Cinta laki-laki itu kepadamu benar-benar tulus. Kepahamannya akan ilmu, justru menuntun ia untuk mengerti keadaanmu dan menatapmu dengan pandangan kekaguman yang dalam. Ya, ia sering berkata begitu. Terlebih pada Ibunya.

Selma, kamu selalu istimewa di matanya. Aku pun percaya, cintanya padamu kini pasti makin meneduhkan hatimu yang dulu ragu. Dan aku curiga, kecantikanmu pasti makin bertambah-tambah lantaran ia membuatmu sempurna bahagia. Hihihi.

Ah ya, kamu pernah menyampaikan padaku tentang tanya yang tertanam dalam hatimu, mengapa ia bersedia menjadi imam dan pendamping untukmu. Sayang sekali waktu itu aku tak menyimak benar. Aku tak memperhatikan benar waktu kamu menceritakan tentang makan malam kalian di sebuah bukit berbintang. Ceritakanlah padaku satu kali lagi. Aku janji, pasti akan kusimak dengan sungguh.

Tapi soal bagaimana ia memujimu setiap hari, janganlah kamu ceritakan banyak-banyak padaku ya, sebab nanti siapa pula yang akan meredakan galauku bila kemudian terbaring pilu dengan hati yang merindukan kehangatan. #tsaah Haha

Ku akhiri surat ini dengan pernyataan bahwa sekali lagi aku merindukan kalian. Dan semoga, keadaan kalian baik-baik saja.

Salam.

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 5 April 2014


Surabaya begitu beruntung memiliki Bu Risma. Sebenar-benarnya Ibu dengan sifat khasnya, ketulusan serta cinta yang tak bisa ditutup-tutupi. 
Dan malam ini terlalu haru menyaksikan Sang Ibu demikian lelah. Lelah yang nyata-nyata sudah hampir menemui tepiannya. Hingga berulang kali tuturnya terbata. Lalu terdiam, sebab tak mampu lagi menahan air mata.
Siapakah yang tega menyaksikan sesosok Ibu berjuang sendirian? Siapakah yang sanggup menyimak sesosok Ibu yang begitu khawatir tak mampu menjadi Ibu yang baik?
Semoga saja banyak pasang mata yang tergerak hati dan langkahnya. Semoga saja banyak pasang mata yang terketuk nuraninya. Tuk menemani Sang Ibu menata dan membenahi. Menemani dengan cara apa saja. Asal sang mentari tak terlalu pagi meninggalkan hari.
Achmad LutfiWolfsburg, 12 Februari 2014

Surabaya begitu beruntung memiliki Bu Risma. Sebenar-benarnya Ibu dengan sifat khasnya, ketulusan serta cinta yang tak bisa ditutup-tutupi.

Dan malam ini terlalu haru menyaksikan Sang Ibu demikian lelah. Lelah yang nyata-nyata sudah hampir menemui tepiannya. Hingga berulang kali tuturnya terbata. Lalu terdiam, sebab tak mampu lagi menahan air mata.

Siapakah yang tega menyaksikan sesosok Ibu berjuang sendirian? Siapakah yang sanggup menyimak sesosok Ibu yang begitu khawatir tak mampu menjadi Ibu yang baik?

Semoga saja banyak pasang mata yang tergerak hati dan langkahnya. Semoga saja banyak pasang mata yang terketuk nuraninya. Tuk menemani Sang Ibu menata dan membenahi. Menemani dengan cara apa saja. Asal sang mentari tak terlalu pagi meninggalkan hari.

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 12 Februari 2014

"Sebaik apapun kita punya maksud, sedalam apapun kita punya ilmu, jangan sampai akhlak ditanggalkan dalam menyampaikan kebenaran."
- Achmad Lutfi
"That’s been one of my mantras - focus and simplicity. Simple can be harder than complex: You have to work hard to get your thinking clean to make it simple. But it’s worth it in the end because once you get there, you can move mountains."
- Steve Jobs
Reblogged from ikumaikuma
the last goodbye..

the last goodbye..

Reblogged from luqmansyauqi
"Karakteristik terkuat yang membedakan kaum introver adalah sumber kekuatan mereka: kaum introver mendapatkan tenaga dari dunia yang berisi ide, emosi, dan pengalaman milik mereka sendiri. Kaum introver merupakan penyimpan energi. Mereka bisa menerima terlalu banyak stimulus dari dunia luar dengan mudahnya, yang mengakibatkan mereka merasakan suatu perasaan tidak nyaman dan “sesak”. Perasaan itu bisa berupa kegelisahan atau kebuntuan pikiran. Bila terjadi demikian, mereka perlu membatasi kegiatan sosial mereka agar tidak kehabisan tenaga. Akan tetapi, kaum introver juga perlu menyeimbangkan waktu mereka untuk menyendiri dengan waktu mereka untuk bergaul di luar, kalau tidak mereka akan kehilangan hubungan dan perspektif dari dunia luar. Kaum introver yang mampu menyeimbangkan energi mereka mempunyai ketekunan dan kemampuam untuk berpikir secara mandiri. Mereka mampu berkonsentrasi penuh dan mengeluarkan kreativitasnya."
- Marti Olsen Laney, Psy.D.

Betapapun, gugur itu bagian dari musim yang bergulir. Gugur itu bagian, dari cerita yang niscaya.

Maka bukan salah angin yang berhembus terlalu kencang. Bukan salah ranting yang tak cukup erat mendekap. Dan bukan pula salah dedaunan, yang memilih untuk pergi.

Sebagaimana siang yang disempurnakan oleh malam, demikianlah masa dalam setahun bertutur. Berkisah hal yang sama. Tentang datang dan perginya. Tentang hangat dan dinginnya. Silih berganti disambung oleh waktu.

Mencintai itu tentang penerimaan. Mencintai, sejak semula, adalah tentang meminang takdir Tuhan. Bahwa akan ada masanya salah satu tiada. Akan ada masanya, salah satu mendahului. Tapi ia jadi sempurna. Jadi alasan untuk kita hiaskan kebersamaan dengan kebahagiaan. Dengan rasa maaf yang luas atas tiap kesalahan. Agar yang sesaat, yang sebentar dan sejenak, menjadi kesan yang jauh dari kata sederhana.

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 7 Januari 2014

(Source: achmadlutfi.com)

Reblogged from indrikhairatip
"Biarkan kesedihan itu, kita adukan padaNya dalam sebentuk rasa permintaan maaf, rasa penyesalan akan ketidakmampuan menahan duka yang teramat, atas segala keputusan-keputusanNya."
- Achmad Lutfi
Reblogged from catatanbesarku

"Addiction doesn’t care who you are. It doesn’t care how old you are. It doesn’t think about your future. It just wants to be satisfied. But it never is."

Reblogged from tulipputih

(Source: akhirulsyah)

Kita, siapapun kita, sangat mungkin salah dan terlupa. Siapapun kita sangat mungkin menyakiti orang lain. Meskipun itu dengan alasan yang dapat diterima.

Kita, sekeras-kerasnya berusaha menjadi orang baik, segigih-gigihnya berjuang untuk jadi lebih baik, tetap saja bisa melakukan keburukan-keburukan kecil, yang dalam keadaan tertentu kita teramat sadar bahwa itu tak baik. Dalam keadaan tertentu kita paham, bahwa kita tak pernah ingin melakukannya. Hanya saja tanpa sengaja, kita telah benar-benar melakukannya.

Mungkin pula tanpa sadar, ada sahabat baik yang pernah tersakiti hatinya oleh lisan kita yang begitu ringan. Namun ia tak bicara sebab tak sampai hati menyebutkan kesalahan itu. Barangkali tanpa sengaja, ada tingkah laku kita yang betul-betul tak dapat diterima, tapi kita tak tahu, kita tak merasa, hanya karena selama ini kita tahu yang baik itu seperti apa.

Maka dari itu, terimalah kesalahan-kesalahan yang sangat mungkin kita lakukan. Terimalah dengan lapang dada dan kesadaran yang sempurna bahwa kita telah melakukan kekeliruan. Terimalah, sebab kita manusia.

Perbaiki semampu kita, sesanggup kita, dan upayakan pula dengan meminta maaf yang sungguh. Dengan sebenar-benarnya kesadaran, bahwa kita hanya manusia.

Achmad Lutfi
Wolfsburg, 23.12.2013

Reblogged from umulfah

(Source: icanread)

Reblogged from sitaelanda

sitaelanda:

"Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan?
Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur..
Karena, tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat..

Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum hamil..
Yang sudah menikah, menjaga perasaan orang yang belum menikah..
Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin..
Yang sempurna fisiknya, menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik..

Indah.

Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang disekitar kita iri..
Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita..
Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati..

Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya”

(Sarah kurniati)

Sudah selayaknya, dalam berbahagia pun kita mesti bersabar. Tak melulu kebahagiaan itu disebut-sebut dalam berbagai kesempatan, sebab langit disini belum tentu serupa dengan langit disana.

Hari ini adalah hari ke tujuh. Tepat satu pekan saya menjadi trainee di sebuah perusahaan. Masih sangat amat baru. Masih terlalu sedikit pengalaman yang saya reguk. Tetapi ada kenyataan yang benar-benar baru saya sadari, dan saya coba untuk pahami dalam-dalam.