Reblogged from ragilliarach
Penasaran
Foto ini sangat berhasil bikin saya penasaran. Betul-betul ingin tahu gimana kira-kira kelanjutan dari adegan tersebut. Beberapa kemungkinan memang bisa saja terjadi, semisal: Si Pinguin yang kurang beruntung masuk kedalam perut besar Sang Paus. Tinggal didalamnya dan tak pernah kembali lagi.
Tapi tunggu dulu, kurang bijak rasanya kalau saya memilih kemungkinan itu. Menghakimi si paus hitam putih dengan hanya bersandar pada gambar yang saya lihat. Apalagi ini hanya adegan sesaat. Belum tuntas.
Padahal bisa saja, si paus yang sedang mangap dan menjulurkan lidahnya itu hendak berniat baik. Ketika tengah asik berenang, matanya menangkap seekor pinguin unyu yang terpeleset dari tepi jurang es. Hatinya pun trenyuh. Bergegaslah ia mengerahkan seluruh tenaganya demi mengangkat tubuhnya yang tambun. Mulutnya ia buka lebar-lebar, setelah mencak-mencak menyesali siripnya yang terlalu pendek untuk menggapai tubuh mungil sang pinguin. Aaaaaaaa. Terngangalah ia dengan menjulurkan lidahnya. Menyembunyikan gigi-gigi bawahnya yang tajam dan runcing, tak tega bila makhluk yang ia tolong terluka. Akhirnya, selamat lah si pinguin. Orangtua, tetangga dan sahabat-sahabatnya berterimakasih akan kebaikan hati sang paus. Mereka semua pun hidup bahagia. Selama-lamanya…
Ya, memang hanya fiksi. Rekaan. Namun tampak lebih adil untuk menyikapi sesuatu yang tidak saya ketahui sepenuhnya. Saya tidak berhak menilai buruk sang paus hanya karena ia dikenal sebagai pembunuh. Setidaknya saya belajar untuk membiasakan diri agar bijak menyikapi berbagai hal. Lebih-lebih bila sudah menyangkut manusia lain disekitar saya. Menghakimi orang lain tanpa benar-benar tahu maksud hati dan tujuannya bukanlah hal yang bijaksana. Tanpa tahu apa yang ia rasa dan ia alami, dengan sebaik-baiknya. Dan seringkali terlalu sedikit yang kita tahu untuk terlalu cepat menilai orang lain.

Penasaran

Foto ini sangat berhasil bikin saya penasaran. Betul-betul ingin tahu gimana kira-kira kelanjutan dari adegan tersebut. Beberapa kemungkinan memang bisa saja terjadi, semisal: Si Pinguin yang kurang beruntung masuk kedalam perut besar Sang Paus. Tinggal didalamnya dan tak pernah kembali lagi.

Tapi tunggu dulu, kurang bijak rasanya kalau saya memilih kemungkinan itu. Menghakimi si paus hitam putih dengan hanya bersandar pada gambar yang saya lihat. Apalagi ini hanya adegan sesaat. Belum tuntas.

Padahal bisa saja, si paus yang sedang mangap dan menjulurkan lidahnya itu hendak berniat baik. Ketika tengah asik berenang, matanya menangkap seekor pinguin unyu yang terpeleset dari tepi jurang es. Hatinya pun trenyuh. Bergegaslah ia mengerahkan seluruh tenaganya demi mengangkat tubuhnya yang tambun. Mulutnya ia buka lebar-lebar, setelah mencak-mencak menyesali siripnya yang terlalu pendek untuk menggapai tubuh mungil sang pinguin. Aaaaaaaa. Terngangalah ia dengan menjulurkan lidahnya. Menyembunyikan gigi-gigi bawahnya yang tajam dan runcing, tak tega bila makhluk yang ia tolong terluka. Akhirnya, selamat lah si pinguin. Orangtua, tetangga dan sahabat-sahabatnya berterimakasih akan kebaikan hati sang paus. Mereka semua pun hidup bahagia. Selama-lamanya…

Ya, memang hanya fiksi. Rekaan. Namun tampak lebih adil untuk menyikapi sesuatu yang tidak saya ketahui sepenuhnya. Saya tidak berhak menilai buruk sang paus hanya karena ia dikenal sebagai pembunuh. Setidaknya saya belajar untuk membiasakan diri agar bijak menyikapi berbagai hal. Lebih-lebih bila sudah menyangkut manusia lain disekitar saya. Menghakimi orang lain tanpa benar-benar tahu maksud hati dan tujuannya bukanlah hal yang bijaksana. Tanpa tahu apa yang ia rasa dan ia alami, dengan sebaik-baiknya. Dan seringkali terlalu sedikit yang kita tahu untuk terlalu cepat menilai orang lain.