Catatan: Cerpen ini adalah lanjutan dari kisah Adjie dan Arina pada postingan Jemput Aku, Bisa? Sangat dianjurkan untuk membaca postingan tersebut lebih dahulu agar bisa memahami surat fiksi ini. ^^v
Teruntuk Arina,
Assalamu’alaikum wr. wb.
Maafkan aku, karena baru hari ini aku bisa mengabarkan tentang keadaanku padamu. Saat aku merangkai kata dalam e-mail ini, aku sedang terduduk dimuka jendela yang memandang tepat ke arah Menara Eiffel. Ya, aku masih di Paris.
Arina, izinkan aku menjelaskan semuanya. Segala hal yang kemudian membawaku hingga ke kota ini.
Pagi itu, adalah pagi yang berbeda. Papa dan Mama menyambutku dengan senyum yang mengembang. Merekah. Ah, rasanya tak pernah aku mendapat sambutan yang seperti itu pada pagi-pagi yang lain. Rupanya mereka telah menungguku di meja makan sejak tadi. Bukan sekedar untuk mengajakku sarapan, tetapi menanti jawaban yang kamu berikan padaku atas apa yang aku katakan tadi malam.
Tak ingin membuat mereka semakin dihantui rasa penasaran, cepat-cepat aku tunjukkan pesan singkat yang tertulis di layar handphone-ku pada mereka.
From: Arina
Assalamu’alaikum Kang. Besok jemput aku, bisa? Menjemputku, untuk merangkai masa depan bersamamu. Ajak orangtuamu ya, jangan lupa.. :)
Seketika raut wajah mereka tampak begitu bahagia. Menyaksikan kebahagiaan yang tak henti-henti di wajah mereka membuatku merasa bahwa pagi itu adalah pagi yang paling spesial.
Aku pun menceritakan pada mereka tentang apa yang terjadi malam tadi. Tentang aku yang menjemputmu ke rumahmu. Tentang acara makan malam kita. Aku utarakan semuanya dengan sangat antusias, hingga tiba-tiba ku lihat dahi Papa berkerut.
Kata-kataku tertahan begitu menyaksikan ekspresi Papa. Khawatir bila tanpa sadar aku telah melakukan sebuah kesalahan besar. Dan ternyata benar. Papa tak menyangka, malam tadi aku mengajakmu makan malam, pergi, berdua saja.
“Kamu gimana sih, Ji? Semestinya kamu nggak makan malam berdua kayak gitu. Gadis sebaik Arina, harusnya kamu jaga baik-baik. Termasuk menjaga dia dari sangkaan buruk orang lain.”
Aku terpaku.
“Kamu kan bisa, membicarakan hal sepenting itu cukup dirumah Arina, kamu sampaikan langsung pada Ayahnya.”
Ah ya, Papa benar. Semestinya aku berfikir lebih jauh tentang hal itu. Wanita yang baik, selayaknya diperlakukan dengan cara yang baik. Aku akan sangat sulit memaafkan diriku sendiri, bila orang lain sampai membicarakan yang bukan-bukan tentangmu karena sikapku tadi malam.
Maafkan aku, Arina.
“Adjie,” Mama membuyarkan lamunanku. ”Jangan lupa kamu kabarin Kak Tiara, kalo nanti malam kamu mau melamar Arina.”
Hampir saja aku lupa mengabarkan berita baik ini pada Kak Tiara. Putri kesayangan Papa yang tengah melanjutkan studinya di Paris. Buru-buru aku menyambar handphone-ku. Lalu menyapa Kak Tiara lewat Whatsapp. Dan, disinilah semua keadaan bahagia ini berubah.
Kak Tiara kaget mengetahui apa yang aku sampaikan. Ia begitu terkejut, mendapati sebuah berita besar yang sangat tiba-tiba. Jawaban Kak Tiara sangat amat jauh dari bayanganku semula. Ternyata, ia tak rela bila adiknya menikah lebih dulu. Kak Tiara sendiri belum berencana untuk segera menikah, ia ingin konsentrasi dulu pada kuliahnya. Pelan-pelan aku berusaha membuatnya agar berubah pikiran. Menyikapi rencana lamaranku dengan lebih dewasa. Namun ia tetap bergeming dan mengakhiri percakapan hari itu dengan satu kalimat singkat. Padat.
Tiara: Pokoknya aku gak mau dilangkahin! Titik!
Reaksi Kakak sulungku bagai guntur yang menyambar-nyambar. Aku, Papa, dan Mama sama sekali tak menduga akan tanggapannya yang seperti itu. Kami kira Kak Tiara tak mempermasalahkan bila aku menikah lebih dulu ketimbang dirinya. Tetapi, nyatanya tak demikian.
Papa menyerahkan keputusan ini padaku dan Mama. Aku sendiri kalut dengan keadaan ini. Sementara Mama, ia mengerti betul bagaimana perasaan Kak Tiara sebagai putri sulung dirumah.
“Kamu sendiri gimana? Bisa kamu nunggu Kakakmu nikah dulu baru kamu menikahi Arina?” Mama mengajukan pertanyaan yang sulit.
Kami sama-sama tahu, Kak Tiara adalah orang yang sangat teguh dengan pendiriannya. Bila ia telah membuat keputusan, maka keputusan itu tak kan bisa diubah-ubah. Pun Papa atau Mama yang meminta.
“Pa, Ma, Aku harus bicara langsung sama Kak Tiara.”
“Maksud kamu?”
Aku mendesah pelan. “Aku akan ke Paris.”
Melalui bantuan seorang teman, aku berhasil memperoleh tiket pesawat ke Paris malam itu juga. Aku merasa harus memperjuangkan kebaikan yang memang mestinya disegerakan. Pernikahan. Menyempurnakan separuh agama yang Rasul ajarkan.
Aku yang tak mau membebani pikiranmu atas apa yang sedang terjadi, hanya bisa mengirimkan sebuah pesan singkat.
To: Arina
Arina, maaf. Aku dan kedua org tuaku tak bisa menemuimu hari ini. Aku harus ke Paris, malam ini juga. Ada urusan mendesak. Aku kabari secepatnya.
Pukul 23:40. Aku terbang ke Paris.
Esok sorenya, setiba di Ibu Kota Prancis ini, aku bergegas menuju apartemen Kak Tiara dengan berbekal alamat yang diberikan Mama.
Kak Tiara terperanjat demi menyaksikan aku muncul dihadapannya, apalagi setelah perdebatan kami kemarin. Aku sangat berharap hatinya luluh saat melihat kesungguhanku untuk menikahimu. Menempuh belasan ribu kilometer demi memperoleh doa dan restu darinya, Kakakku satu-satunya.
Belum. Kedatanganku yang tiba-tiba belum mampu meruntuhkan pendirian Kak Tiara. Aku masih bersabar. Begitu pula hari-hari berikutnya, tak sekalipun aku jenuh berbicara pada Kakakku, mengutarakan segala hal tentang rencana baik itu.
Sampai akhirnya aku mesti menerima kenyataan pahit ini. Kenyataan bahwa segala usaha yang aku lakukan tak membuahkan hasil. Keberadaanku di Paris tak membuat Kak Tiara berubah pikiran. Tak sedikit pun. Bahkan sama sekali tak peduli dengan apa yang telah aku lakukan.
Maka hari ini, disaksikan Menara Eiffel yang tengah disapa butiran salju, aku sampaikan semuanya padamu, Arina. Tentang alasanku pergi ke Paris. Tentang aku yang memohon restu Kak Tiara atas pernikahanku. Aku mengerti, sejatinya, cukuplah restu dari kedua orangtuaku. Akan tetapi, posisi Papa dan Mama yang terjepit membuat mereka tak mampu mengizinkanku untuk meminangmu. Mereka pun tak ingin bila Kak Tiara sampai terluka, karena adiknya lebih dulu berumah tangga.
Arina, aku mohon maaf. Aku tak mengira akan sesulit ini situasinya. Memintamu untuk menunggu? Itu terlalu kekanakan. Aku tak sampai hati membuatmu menunggu sedemikian lama, menyandera perasaanmu padaku hingga dua tahun, hingga Kak Tiara selesai dengan studinya, lalu menikah dengan lelaki pilihannya.
Kamu, sangat berhak memutuskan jalan hidupmu, menentukan siapa lelaki yang kelak menjadi imam untukmu dan keluargamu. Sementara aku, bukan siapa-siapa bagimu. Karena kita, tidak terikat oleh apa-apa.
Maafkan aku.
Adjie