Lagi, Presiden Jerman mengundurkan diri

“Ich habe Fehler gemacht.” Saya telah melakukan kesalahan. Begitulah salah satu kata yang dilontarkan oleh Christian Wulff (kanan) pada pidato pengunduran dirinya selaku Presiden Jerman pada tanggal 17 Februari 2012 di Istana Bellevue.

Alasan pengunduran diri tersebut didasarkan atas berbagai tuduhan yang sejak hampir tiga bulan terakhir menimpa Wulff terkait dugaan penyalahgunaan jabatan untuk prioritas suatu pihak tertentu sewaktu beliau masih menjabat Perdana Menteri Negara Bagian Niedersachsen. Pun atas hubungan erat Christian Wulff dengan sejumlah pengusaha yang membuat beliau kerap menjadi sasaran kritik.

Wulff sendiri baru menjabat sebagai Presiden Jerman selama 598 hari, setelah menggantikan Presiden sebelumnya yang juga mengundurkan diri, Horst Köhler (Kiri).

Berbeda dengan Christian Wulff, yang menjadi alasan Köhler melepas jabatannya sebagai Kepala Negara Jerman adalah karena pernyataan beliau dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun radio. Saat itu, setelah melakukan kunjungan ke Afghanistan, ia mengatakan bahwa untuk mengamankan kepentingan ekonominya, Jerman harus ‘mengikutsertakan’ militernya.

Tak ayal, reaksi keras berjatuhan menanggapi pernyataan tersebut. Kritik datang bertubi-tubi. Maka pada 31 Mei 2010, setelah menyesali kalimatnya yang menuai banyak kontroversi, Horst Köhler memilih mundur.

Saya pribadi cukup terkesan dengan keputusan dua mantan Presiden ini. Terlebih pada sosok Christian Wulff. Dalam sebuah kesempatan, Wulff pernah mengatakan bahwa Istana Bellevue, kantor Presiden Jerman, bukanlah tempat untuk sebuah proses belajar. Disana proses pembelajaran sudah harus dilewati. Jabatan tertinggi Jerman dihidupkan oleh pemegang jabatannya, dari integritas orang itu dan rasa percaya yang ia gugah.

Kemudian ditambah dengan sebuah kalimat yang hebat, “Siapa yang ingin menjadi bagian dari elit negara, harus bertanggung jawab dan menjadi tokoh panutan. Tanpa memberikan banyak alasan.”

Ah, semoga saja, suatu saat nanti, disana, disebuah negeri yang indah itu, akan hadir sosok pemimpin yang berjiwa ksatria. Yang bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Yang bila salah rela melepas jabatannya sebagai Kepala Negara. Dan berani mengatakan, “Ich habe Fehler gemacht.”


3 months ago 31
blog comments powered by Disqus