“Ini apa, Lutfi?” dahi Ibu Guru itu mengernyit.
Jemari tangan kanannya bergegas membetulkan posisi kacamata. Mencari tahu apa yang ditangkap oleh sepasang indera penglihatannya.
Saya, anak didik yang sedang ditanya, sengaja memberikan beliau waktu agar bisa menebak sendiri apa yang saya buat. Dalam hati saya khawatir kalau gambar sederhana yang saya serahkan itu tidak menghasilkan nilai yang cukup bagus.
Mungkin perasaan harap-harap cemas seperti itu nggak akan pernah saya alami, andai saja pagi itu kami tidak diberi tugas untuk menggambar.
Iya. Menggambar. Mungkin terdengar wajar dan biasa saja. Pelajaran: Seni Rupa. Tugas: menggambar. Akan tetapi, kali ini kami dapat tugas yang betul-betul jauh dari biasa.
Beliau, Ibu Guru yang berkacamata itu, menugaskan kami untuk menggambar diatas kertas foto ukuran post card yang berwarna hitam polos. Sedangkan alat gambarnya adalah buah nanas yang telah dipotong kecil-kecil. Baru hari itu saya menggambar dengan media berupa buah nanas dan kertas foto.
Buah nanas yang telah dipotong-potong itu bertindak sebagai crayon atau spidol. Apabila cairan dari buah nanas menyentuh kertas foto yang berwarna hitam, maka serta merta warna hitamnya akan memudar dan berganti menjadi oranye. Hanya perlu goresan halus saja, supaya warna oranye muncul diatas kertas foto.
Awalnya saya benar-benar nggak tahu kalau kejadiannya akan seperti itu. Sayangnya lagi, saya yang agak ceroboh ini tanpa sengaja meneteskan cairan dari buah nanas yang baru saja diberikan.
Akibatnya?
Inilah yang sukses bikin saya jadi bingung.
Gara-gara tetesan tanpa sengaja itu, kertas foto saya jadi ternoda. Kini sudah tidak hitam lagi seluruhnya. Dibagian tengah agak pinggir sebelah kanan, mencuat dengan bahagia garis berwarna kuning kemerah-merahan yang agak panjang dan teramat absurd. Hiks.
Saya cuma bisa melongo menghadapi semua kenyataan tersebut. Menatap lekat-lekat noda yang saya buat sendiri karena ketidak sengajaan. Wajah saya yang memelas tidak membuat si noda angkat kaki lalu beranjak pergi. Diatas kertas foto itu ia bergeming.
Dalam masa-masa genting itu, tak ada satu pun teman yang sempat membantu. Tentu saja, karena mereka juga tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sejak beberapa waktu lalu, mereka sudah mulai menggambar dengan indahnya.
Saya tengok, kebanyakan dari mereka tengah asik menggambar pemandangan. Sebagian besar melukis gunung-gemunung yang disertai sawah. Kalau mau beda sedikit, ya diganti saja sama pantai.
Tadinya saya juga mau menggambar macam itu. Iya, tadinya. Tapi sekarang? Nggak paham lagi mau bikin apa.
Waktu pun terus berjalan. Malah seperti berlari. Cepat betul. Gambar kreasi milik teman-teman sudah mulai tuntas. Andaikan tadi saya mulai menggambar bersamaan dengan mereka, mungkin saat ini karya saya juga sudah mulai rampung. Mungkin gunung-gemunung sudah ditemani burung-burung. Atau deburan ombak sudah menyentuh bibir pantai. Tapi nyatanya? Glek! Dari tadi cuma terbentang garis absurd yang meliuk-liuk.
Oke. Saya nggak boleh berandai-andai. Harus cari cara supaya tetap bisa menghasilkan gambar.
Waktu yang saya punya semakin sempit. Mepet euy. Tinggal beberapa saat lagi untuk kemudian gambar harus dikumpulkan dan diberi nilai.
Disaat seperti itu biasanya saya cenderung pasrah. Pasrah dalam arti berpikir sesederhana mungkin. Sesimpel mungkin. Saya harus realistis. Waktu yang saya punya nggak banyak untuk bisa menghasilkan gambar yang rumit, kompleks dan banyak memakan waktu seperti gambar pemandangan.
Saya pandangi terus itu kertas foto. Berpikir. Gambar apa yang kira-kira bisa saya buat.
Sampai kemudian….TRING!
Inspirasi akhirnya datang juga.
Dengan anggunnya, saya apit kembali potongan nanas kecil diantara jempol dan jari telunjuk. Lalu pada salah satu ujung garis nan abstrak itu, saya buat lingkaran agak besar. Lingkaran itu saya bentuk sebagus mungkin, walau saya tahu, bahwa sesungguhnya saya ini tidak pandai menggambar.
Dan, selesai!
Iya. Segitu aja. Akhirnya saya cuma buat lingkaran disalah satu ujung garis yang tidak diharapkan itu. Kemudian saya tulis judul karya tersebut dibelakang kertas foto. Dan memberanikan diri untuk dinilai oleh Ibu Guru.
Mungkin gambar saya menjadi gambar paling sederhana dibanding teman-teman yang lain. Tapi tak apa. Setidaknya saya juga menghasilkan kreasi seperti mereka.
“Ini apa, Lutfi?” Ibu Guru heran dan bertanya-tanya melihat hasil kerja saya. Menghabiskan waktu puluhan menit, tapi hanya melahirkan gambar bulat dan garis aneh.
“Hmm. Itu Matahari, Bu.” jawab saya akhirnya.
“Matahari?”
“Iya, Bu. Jadi, ceritanya ini hasil foto luar angkasa yang menjadikan Matahari sebagai objeknya.”
Ibu Guru menganggukkan kepalanya. Mulai tertarik dengan imajinasi saya.
“Terus, garis aneh ini apa?”
“Oh, itu lidah api.” tambah saya. “Matahari kan punya lidah api.”
Ya. Itulah garis absurd tadi. Akhirnya saya jadikan ia sebagai lidah api.
“Oooh iya. Bagus.”
Fiuuuh.
Sejenak saya merasa tenang dengan pujian beliau. Setidaknya masih dibilang bagus. Berharap semoga hasilnya pun nggak buruk-buruk amat.
Dan ternyata benar. Tak berapa lama, Ibu Guru menorehkan angka yang cukup tinggi untuk gambar itu. Saya tergelak dalam hati. Susah payah menahan tawa. Bukan apa-apa, sebab gambar itu hanyalah gambar yang sangat amat sederhana. Siapapun bisa membuatnya dan tak butuh waktu lama. Namun alhamdulillah, hasilnya sangat menggembirakan.
Saya kembali ke tempat duduk dengan wajah sumringah. Berterimakasih pada noda yang nggak sengaja itu. Sebab justru karena keberadaannya, saya terinspirasi untuk menggambar Matahari dan mendapat nilai yang memuaskan.
Hari itu, pada pelajaran seni rupa, saya mendapat pelajaran penting yang berharga sekali. Tentang bagaimana menghargai ide atau gagasan yang muncul di dalam benak, yang seringkali terabaikan hanya karena tampak sepele. Menganggapnya remeh dan tidak lebih baik dari pada ide maupun gagasan orang lain. Padahal belum tentu. Apa-apa yang luar biasa, kadang berasal dari sesuatu kelihatannya sederhana. Dan apa-apa yang menurut kita sederhana, kadang justru menarik bagi orang lain karena tak terpikir di dalam benak mereka.
Maka benarlah kata orang, simple is beautiful.