Seratus Puisi untuk Mama

Mama,
Aku masih teramat belia
Waktu itu
Waktu kau tunjukkan padaku
Secarik kertas bersimbah aksara
Dibalut untaian kata mutiara
Yang tak kupahami maknanya

Lalu kau bacakan padaku
Dihadapanku
Kata-katanya satu-satu
Naik turun kudengar suaramu
Sesekali meninggi memburu
Kadang merendah seperti malu-malu
Menghujani hatiku yang terpukau terpaku

Hari itu aku berkenalan dengan puisi
Dengan engkau yang berdeklamasi
Membawakan puisi tentang Cordoba dan Andalusia
Yang pernah kau bacakan pula saat masih remaja

Kertas itu kau berikan untuk ku simpan
Didalam Al-Qur’an aku sisipkan
Supaya tetap terjaga rapi
Bagiku ia berharga sekali

Mama,
Ingin sekali aku mencipta
Seratus puisi untuk Mama
Mungkin menjadi puisi paling sederhana
Paling ringan bahasanya
Tak apa ya, Ma

Engkau pun pasti tahu juga
Kalau ini adalah caraku sebetulnya
Untuk menyampaikan segenap rasa
Bahwa padamu, aku cinta

achmadlutfi
wolfsburg, 250212

blog comments powered by Disqus